Hukum Ohm: V = I × R, Daya, dan Menghitung Resistor LED
Apa itu hukum Ohm? Rumus V = I × R dan P = V × I, cara menghitung resistor LED, resistor seri dan paralel, batas arus pin Arduino, dan contoh pengukuran dengan multimeter.
Hukum Ohm adalah aturan dasar yang menjelaskan hubungan antara tegangan (V), arus (I), dan hambatan (R) dalam rangkaian listrik: V = I × R. Artinya, tegangan di kedua ujung resistor sama dengan arus yang mengalir melewatinya dikalikan nilai hambatannya. Dengan rumus satu baris ini kamu bisa menghitung resistor yang dibutuhkan LED, seberapa besar arus yang boleh ditarik dari pin Arduino, atau berapa tegangan yang dihasilkan rangkaian sensor, semuanya sebelum ada satu komponen pun yang terbakar.
Hampir semua orang yang baru belajar elektronika punya pertanyaan pertama yang sama: “Kenapa kita memasang resistor di depan LED, dan kenapa 220 Ω?” Di artikel ini kita membahas hukum Ohm dari nol dengan analogi pipa air. Setelah itu kamu akan belajar langkah demi langkah cara menghitung daya (P = V × I) dan resistor LED, batas arus pin Arduino, ESP32, dan Raspberry Pi Pico, resistor seri dan paralel, pengukuran dengan multimeter, serta cara membuat ohmmeter sendiri dengan Arduino. Kalau sedang malas berhitung manual, kalkulator hukum Ohm dan kalkulator resistor LED menyelesaikannya dalam hitungan detik.

Apa itu hukum Ohm? Rumus V = I × R
Pada tahun 1827, fisikawan Jerman Georg Simon Ohm menunjukkan bahwa arus yang melewati sebuah konduktor berbanding lurus dengan tegangan yang diberikan di kedua ujungnya. Gandakan tegangannya, arusnya ikut berlipat dua; gandakan hambatannya, arusnya tinggal setengah. Cara paling mudah mengingatnya adalah analogi pipa air: tegangan adalah tekanan air di tangki, arus adalah jumlah air yang mengalir melewati pipa setiap detik, dan hambatan adalah sempitnya pipa. Tekanan lebih besar berarti aliran lebih deras; pipa lebih sempit berarti aliran lebih kecil. Dalam listrik, tegangan mendorong elektron, hambatan menyempitkan jalannya, dan arus adalah jumlah muatan yang akhirnya lewat.
| Besaran | Simbol | Satuan | Alat ukur | Nilai umum di Arduino |
|---|---|---|---|---|
| Tegangan | V (di beberapa buku U) | volt (V) | Voltmeter | 5 V, 3,3 V |
| Arus | I | ampere (A) | Amperemeter | 5–20 mA untuk LED, 0,5 mA untuk pull-up |
| Hambatan | R | ohm (Ω) | Ohmmeter | 220 Ω, 330 Ω, 10 kΩ |
| Daya | P | watt (W) | Dihitung (V × I) | 1/4 W untuk resistor |
Rumus ini bisa dipakai dengan tiga cara. Untuk mencari arus, bagi tegangan dengan hambatan (I = V / R); untuk mencari hambatan, bagi tegangan dengan arus (R = V / I); untuk mencari tegangan, kalikan arus dengan hambatan (V = I × R). Jembatan keledai klasiknya adalah segitiga hukum Ohm: tulis V di puncak, lalu I dan R di dua sudut bawah. Tutup huruf yang ingin kamu cari dengan jari, dan dua huruf yang tersisa menunjukkan operasinya: berdampingan berarti dikali, atas-bawah berarti dibagi.
| Yang dicari | Rumus | Contoh |
|---|---|---|
| Tegangan (V) | V = I × R | 0,02 A × 220 Ω = 4,4 V |
| Arus (I) | I = V / R | 5 V / 1000 Ω = 0,005 A = 5 mA |
| Hambatan (R) | R = V / I | 3 V / 0,01 A = 300 Ω |
| Daya (P) | P = V × I = I² × R = V² / R | 5 V × 0,02 A = 0,1 W |
Satuan: menghitung dengan miliampere dan kiloohm
Di dunia Arduino, arus biasanya dinyatakan dalam miliampere (mA), bukan ampere, dan hambatan dalam kiloohm (kΩ), bukan ohm. 1 A = 1000 mA, 1 kΩ = 1000 Ω, dan 1 MΩ = 1.000.000 Ω. Kesalahan hitung yang paling sering adalah mencampur satuan: kalau arus 20 mA kamu masukkan ke rumus sebagai 20, hasilnya meleset seribu kali. Cara yang benar adalah menulis arus dalam ampere sebagai 0,02, atau mengerjakan seluruh perhitungan secara konsisten dalam mA dan kΩ.
Daya listrik: P = V × I
Hukum Ohm punya kembaran yang tak terpisahkan, yaitu rumus daya: P = V × I. Daya yang dibuang sebuah komponen adalah tegangan di kedua ujungnya dikali arus yang melewatinya, diukur dalam watt (W). Masukkan hukum Ohm ke dalamnya dan kamu mendapat dua bentuk praktis lain: P = I² × R dan P = V² / R. Daya yang dibuang di resistor berubah menjadi panas, karena itu setiap resistor punya rating daya. Resistor film karbon kecil yang biasa kamu pakai di breadboard umumnya ber-rating 1/4 W (0,25 W).
| Situasi | Perhitungan | Daya | Yang dipilih |
|---|---|---|---|
| Resistor LED: 3 V di resistor 330 Ω | 3 V × 9,1 mA | 27 mW | 1/4 W sudah lebih dari cukup |
| Pull-up: 5 V di resistor 10 kΩ | 5 V × 0,5 mA | 2,5 mW | 1/4 W sudah lebih dari cukup |
| 100 Ω langsung ke 5 V | 5 V × 50 mA | 250 mW | Tepat di batas 1/4 W; pakai 1/2 W |
| 22 Ω langsung ke 5 V | 5 V × 227 mA | 1,14 W | Resistor daya minimal 2 W |
Agar desainnya aman, pilih resistor dengan rating minimal dua kali daya yang akan dibuangnya. Resistor yang terlalu panas untuk disentuh, badan yang menghitam, atau bau gosong adalah tanda batas dayanya sudah terlampaui. Logika yang sama berlaku ketika memilih baterai dan adaptor: proyek yang menarik 500 mA pada 5 V memakai 2,5 W, dan itu batas daya yang bisa diberikan port USB 2.0.
Menghitung resistor LED langkah demi langkah
LED tidak langsung mengikuti hukum Ohm, karena hambatannya tidak tetap. LED hampir tidak menghantarkan arus sampai mencapai tegangan maju (Vf) tertentu; begitu ambang itu terlewati, arusnya naik sangat cepat. Kalau LED kamu hubungkan langsung ke 5 V atau ke pin Arduino, tidak ada yang membatasi arusnya, dan LED, pin, atau keduanya akan rusak. Itulah fungsi resistor seri: tegangan maju LED hampir tetap, sisa tegangannya jatuh di resistor, dan hukum Ohm menentukan arusnya. Kalau penasaran cara kerja LED, baca Apa Itu LED?.
- Tentukan tegangan catu (Vs): 5 V di Arduino Uno dan Nano, 3,3 V di ESP32 dan Raspberry Pi Pico.
- Tentukan tegangan maju LED (Vf): sekitar 2,0 V untuk merah, 3,0–3,2 V untuk biru dan putih. Untuk nilai umum per warna, lihat tabel tegangan LED.
- Pilih arus yang kamu inginkan (I): 20 mA adalah batas atas untuk LED standar 5 mm; 5–10 mA biasanya sudah cukup terang dan tidak membebani pin.
- Terapkan rumusnya: R = (Vs − Vf) / I.
- Bulatkan hasilnya ke atas ke nilai standar berikutnya (seri E12: 100, 120, 150, 180, 220, 270, 330, 390, 470 Ω…). Nilai terdekat bisa kamu cari dengan pencari nilai standar.
- Cek dayanya: P = (Vs − Vf) × I. Untuk satu LED indikator, hasilnya biasanya di bawah 50 mW, jadi resistor 1/4 W sudah cukup.
| Warna LED | Vf (perkiraan) | Di 5 V untuk 10 mA | Di 3,3 V untuk 10 mA |
|---|---|---|---|
| Merah | 2,0 V | 300 Ω → 330 Ω | 130 Ω → 150 Ω |
| Kuning | 2,1 V | 290 Ω → 330 Ω | 120 Ω → 120 Ω |
| Hijau (klasik) | 2,2 V | 280 Ω → 330 Ω | 110 Ω → 120 Ω |
| Biru | 3,0 V | 200 Ω → 220 Ω | 30 Ω → 33 Ω (mepet) |
| Putih | 3,1 V | 190 Ω → 220 Ω | 20 Ω → 22 Ω (mepet) |
Mari coba contoh nyata: kamu menghubungkan LED merah ke pin 5 V di Arduino Uno. R = (5 − 2) / 0,01 = 300 Ω, jadi kamu memilih nilai standar 330 Ω. Arus sebenarnya I = 3 / 330 ≈ 9,1 mA, dan resistor membuang 3 V × 9,1 mA ≈ 27 mW. Kenapa 220 Ω begitu umum di starter kit? Karena dengan LED merah di 5 V, nilai ini menghasilkan sekitar 13,6 mA: terang dan aman. Hubungkan LED yang sama ke pin ESP32 3,3 V dengan 330 Ω, arusnya turun menjadi (3,3 − 2) / 330 ≈ 3,9 mA; LED tetap menyala, tetapi lebih redup. Di Raspberry Pi Pico, arus kecil ini justru menguntungkan, karena pin Pico punya drive strength bawaan 4 mA. Kalkulator resistor LED mengerjakan semua ini dalam satu layar.
Batas arus pin Arduino, ESP32, dan Pico
Pin mikrokontroler adalah sumber tegangan kecil yang hanya bisa memberikan arus terbatas. Ketika diatur HIGH, pin mengeluarkan 5 V atau 3,3 V, tetapi hanya bisa mempertahankan tegangan itu sampai arus tertentu. Di sini pun hukum Ohm bekerja: kalau kamu tahu hambatan beban di pin itu, hitung arusnya dengan I = V / R lalu bandingkan hasilnya dengan batas pin.
| Board | Tegangan pin | Arus pin yang aman | Nilai tertinggi | Batas total |
|---|---|---|---|---|
| Arduino Uno / Nano (ATmega328P) | 5 V | 20 mA | 40 mA (maksimum mutlak) | 200 mA (pin VCC dan GND) |
| ESP32 | 3,3 V | Sekitar 20 mA (drive strength bawaan) | Sekitar 40 mA (di pengaturan drive tertinggi) | Bebankan lewat transistor |
| Raspberry Pi Pico (RP2040) | 3,3 V | 4 mA (bawaan; bisa dipilih 2, 4, 8, atau 12 mA) | 12 mA | 50 mA untuk semua GPIO sekaligus |
Batas ini melindungi chip itu sendiri; bekerja terus-menerus di maksimum mutlak membuatnya cepat aus. Aturan praktisnya sederhana: dari satu pin, nyalakan paling banyak satu atau dua LED, dan serahkan sisanya ke transistor. Misalnya, kumparan relay biru 5 V yang klasik punya hambatan sekitar 70 Ω, jadi I = 5 / 70 ≈ 71 mA. Itu hampir dua kali batas 40 mA di Uno, karena itu relay selalu dikendalikan lewat transistor. Modul relay siap pakai sudah membawa transistor dan dioda pelindung itu di board-nya. Perhitungan yang sama berlaku untuk motor, servo, LED strip, dan buzzer yang kuat; transistor yang cocok bisa kamu pilih dengan alat transistor.
Resistor seri dan paralel (singkat)
Kalau kamu memakai lebih dari satu resistor, sederhanakan rangkaiannya menjadi satu hambatan pengganti lalu terapkan hukum Ohm lagi. Pada sambungan seri, resistor disambung ujung ke ujung, arus yang sama mengalir melewati semuanya, dan hambatan totalnya adalah jumlah semua nilai. Pada sambungan paralel, kedua ujung resistor dipakai bersama, semuanya mendapat tegangan yang sama, dan arusnya terbagi ke tiap cabang; hambatan totalnya selalu lebih kecil daripada resistor terkecil sekalipun.
| Sambungan | Hambatan total | Arus | Tegangan | Contoh |
|---|---|---|---|---|
| Seri | R = R1 + R2 + … | Arus yang sama mengalir di semuanya | Terbagi sebanding dengan hambatannya | 220 Ω + 330 Ω = 550 Ω |
| Paralel | 1/R = 1/R1 + 1/R2 + … | Terbagi ke tiap cabang | Sama di semuanya | 1 kΩ ∥ 1 kΩ = 500 Ω; 1 kΩ ∥ 2,2 kΩ ≈ 688 Ω |
Penerapan resistor seri yang paling berguna adalah pembagi tegangan. Dengan dua resistor seri, tegangan di titik tengahnya adalah Vout = Vin × R2 / (R1 + R2). Rumus ini juga langsung berasal dari hukum Ohm: arus I = Vin / (R1 + R2) mengalir di rangkaian, dan tegangan di R2 adalah I × R2. Misalnya, untuk menurunkan sinyal 5 V agar aman bagi input ESP32 3,3 V, pakai R1 = 1 kΩ dan R2 = 2 kΩ: hasilnya 5 × 2 / 3 ≈ 3,33 V, dan arus yang mengalir di pembagi hanya 5 / 3000 ≈ 1,7 mA. Rangkaian LDR dan potensiometer sebenarnya juga pembagi tegangan; detailnya ada di artikel LDR dan potensiometer. Alat seri-paralel dan pembagi tegangan siap mengerjakan hitungannya.
Resistor pull-up dan hukum Ohm
Resistor pull-up 10 kΩ yang kamu pakai ketika menghubungkan tombol ke Arduino juga dipilih dengan hukum Ohm. Selama tombol ditekan, satu ujung resistor berada di 5 V dan ujung lainnya di ground, jadi arus I = 5 / 10.000 = 0,5 mA mengalir melewatinya, kerugian yang bisa diabaikan bahkan di proyek bertenaga baterai. Kalau kamu memasang 100 Ω, setiap tekanan menarik 50 mA dan resistornya membuang 0,25 W: baterai cepat habis dan resistornya panas. Sebaliknya, nilai yang sangat besar (misalnya 1 MΩ) membuat pin mudah terkena gangguan. Resistor internal yang diaktifkan mode INPUT_PULLUP di Arduino bernilai antara 20 dan 50 kΩ. Detail pengkabelan tombol ada di Cara Menghubungkan Push Button ke Arduino.
Contoh pengukuran dengan multimeter
- Mengukur tegangan: Atur multimeter ke DC V dan tempelkan probe di kedua ujung komponen, secara paralel. Rangkaian harus sedang bekerja.
- Mengukur arus: Putus rangkaian di satu titik dan pasang multimeter secara seri di celah itu, dengan probe merah di soket mA. Seluruh arus harus mengalir melewati multimeter.
- Mengukur hambatan: Matikan rangkaian dan lepaskan minimal satu kaki resistor; kalau tidak, jalur paralel akan mengubah hasil bacaan.
- Mengukur arus secara tidak langsung: Ukur tegangan di resistor yang nilainya sudah diketahui, lalu hitung I = V / R. Ini cara paling aman, tanpa perlu mencabut kabel.
Mari kita lihat contohnya: kamu membuat rangkaian seri dari pin 5V Arduino yang diberi daya USB, melewati resistor 330 Ω dan LED merah, ke GND. Dengan probe di kedua ujung resistor kamu membaca 2,95 V, dan di LED 1,98 V. Untuk mencari arusnya, tidak ada yang perlu dicabut: I = 2,95 / 330 ≈ 8,9 mA. Jumlah kedua tegangan itu 4,93 V, karena tegangan USB tidak pernah tepat 5,00 V; biasanya berada di antara 4,8 dan 5,1 V. Fakta bahwa tegangan dalam rangkaian seri dijumlahkan menjadi tegangan catu adalah hukum tegangan Kirchhoff, yang bersama hukum Ohm menjadi dasar semua perhitungan rangkaian.
Membuat ohmmeter sendiri dengan Arduino
Cara terbaik agar hukum Ohm benar-benar menempel di kepala adalah memakainya di kode. Hubungkan resistor 10 kΩ yang sudah diketahui nilainya secara seri dengan resistor yang belum diketahui (Rx), lalu masukkan titik tengahnya ke input analog: dari tegangan yang diukur, board pertama-tama menghitung arusnya (I = V / R), lalu hambatan yang belum diketahui (R = V / I). Pengkabelannya seperti ini:
| Titik rangkaian | Arduino Uno | ESP32 | Raspberry Pi Pico |
|---|---|---|---|
| Ujung atas resistor yang diketahui (10 kΩ) | 5V | 3V3 | 3V3(OUT), pin 36 |
| Titik tengah tempat kedua resistor bertemu | A0 | GPIO 34 | GP26 (ADC0), pin 31 |
| Ujung bawah resistor yang diukur (Rx) | GND | GND | GND, pin 38 |
1// Gerilim bölücü ile ohmmetre / Ohmmeter with a voltage divider
2// 5V -> 10k (bilinen / known) -> A0 -> Rx -> GND
3const float VIN = 5.0; // besleme gerilimi / supply voltage
4const float R_KNOWN = 10000.0; // bilinen direnç (ohm) / known resistor (ohms)
5const int ADC_PIN = A0;
6
7void setup() {
8 Serial.begin(9600);
9}
10
11void loop() {
12 int raw = analogRead(ADC_PIN); // 0-1023
13 float vout = raw * VIN / 1023.0; // Rx üzerindeki gerilim / voltage across Rx
14
15 if (raw >= 1020) {
16 Serial.println(F("Direnc yok / No resistor"));
17 } else if (raw <= 3) {
18 Serial.println(F("Kisa devre / Short circuit"));
19 } else {
20 float iMilli = (VIN - vout) / R_KNOWN * 1000.0; // I = V / R (mA)
21 float rx = vout / iMilli * 1000.0; // R = V / I (ohm)
22 float pMilli = vout * iMilli; // P = V x I (mW)
23 Serial.print(F("Rx = "));
24 Serial.print(rx, 0);
25 Serial.print(F(" ohm I = "));
26 Serial.print(iMilli, 3);
27 Serial.print(F(" mA P = "));
28 Serial.print(pMilli, 2);
29 Serial.println(F(" mW"));
30 }
31 delay(1000);
32}Kode ini pertama-tama mencari tegangan di input analog. Arus yang melewati resistor yang diketahui adalah tegangan di kedua ujungnya (VIN − vout) dibagi 10 kΩ; karena rangkaiannya seri, arus yang sama juga mengalir di Rx. Lalu Rx = vout / I memberikan hambatan yang belum diketahui, dan P = V × I memberikan daya yang dibuang Rx. Karena referensi analog Arduino memakai jalur daya 5 V yang sama, tegangan USB 4,9 V atau 5,1 V hampir tidak memengaruhi hambatan yang kamu dapat. Pengukuran paling akurat ketika Rx mendekati nilai resistor yang diketahui; dengan 10 kΩ, rentang sekitar 1 kΩ sampai 100 kΩ terukur dengan baik.
Di ESP32 kamu bisa membuat rangkaian yang sama di GPIO 34; di kode, atur VIN = 3.3 dan ADC_PIN = 34, dan karena ADC ESP32 membaca 0–4095, ganti 1023 dengan 4095 (dan geser ambang “tanpa resistor” ke sekitar 4090). Namun ADC ini tidak benar-benar linear dan tidak bisa membaca jauh di atas sekitar 3,1 V, jadi daripada mengonversi nilai mentah, lebih akurat membaca tegangannya langsung dalam milivolt dengan analogReadMilliVolts(34). Dengan begitu pengukurannya tidak lagi rasiometrik, jadi atur VIN ke tegangan sebenarnya yang kamu ukur di pin 3V3 dengan multimeter. Di Raspberry Pi Pico, pengukuran yang sama dengan MicroPython terlihat seperti ini:
1from machine import ADC
2import time
3
4VIN = 3.3 # Pico ADC referansı / Pico ADC reference
5R_KNOWN = 10000 # bilinen direnç (ohm) / known resistor (ohms)
6adc = ADC(26) # GP26 = ADC0
7
8while True:
9 raw = adc.read_u16() # 0-65535
10 vout = raw * VIN / 65535 # Rx üzerindeki gerilim / voltage across Rx
11 if vout > VIN - 0.02:
12 print("Direnc yok / No resistor")
13 elif vout < 0.02:
14 print("Kisa devre / Short circuit")
15 else:
16 i_ma = (VIN - vout) / R_KNOWN * 1000 # I = V / R (mA)
17 rx = vout / i_ma * 1000 # R = V / I (ohm)
18 print("Rx = {:.0f} ohm I = {:.3f} mA".format(rx, i_ma))
19 time.sleep(1)Kesalahan hitung yang sering terjadi
| Kesalahan | Apa yang terjadi? | Lakukan ini |
|---|---|---|
| Menulis mA sebagai ampere (10, bukan 0,01) | Hasilnya 0,3 Ω, bukan 300 Ω | Tulis arus dalam ampere atau pakai jalan pintas V / kΩ = mA |
| Lupa tegangan maju LED (R = 5 / 0,01) | Hasilnya 500 Ω dan LED jadi redup tanpa alasan | Pakai R = (Vs − Vf) / I |
| Memakai ulang hitungan 5 V di board 3,3 V | LED sangat redup di ESP32 atau Pico | Hitung ulang dengan tegangan board itu sendiri |
| Tidak menghitung daya | Resistor panas, menghitam, lalu terbakar | Hitung P = I² × R dan beri margin minimal 2× |
| Mengukur hambatan di rangkaian yang dialiri listrik | Bacaan salah; multimeter bisa rusak | Matikan daya dan angkat satu kaki resistor |
| Menghubungkan relay atau motor langsung ke pin | Pin rusak permanen karena arus berlebih | Pakai transistor, MOSFET, atau modul relay |
Proyek untuk mencoba hukum Ohm
- Rangkaian LED pertamamu: Lihat sendiri perbedaan terang antara 220 Ω dan 330 Ω, lalu pastikan arusnya dengan multimeter.
- Lampu lalu lintas: Hitung resistor terpisah untuk LED merah, kuning, dan hijau berdasarkan tegangan majunya.
- LED RGB: Cari tahu kenapa setiap kanal warna butuh resistornya sendiri di Cara Memakai LED RGB.
- Lampu tidur: Deteksi gelap dengan pembagi tegangan dari LDR dan resistor tetap; kodenya ada di artikel Sensor Cahaya LDR.
- Voltmeter digital: Ukur tegangan di atas 5 V dengan aman memakai pembagi tegangan dan tampilkan hasilnya di LCD.
- Ohmmeter saku: Gabungkan kode di atas dengan layar LCD I2C untuk membuat pengukur hambatan portabel.
Hukum Ohm adalah perhitungan dasar di balik setiap rangkaian yang akan kamu buat, entah itu LED, sensor, motor, atau catu daya. Begitu kamu paham, kamu memilih resistor dengan menghitung, bukan menebak, dan tidak ada lagi komponen yang terbakar sia-sia. Untuk mengenal resistor lebih jauh, baca Apa Itu Resistor?. Di aplikasi BlueGrays ada proyek LED, lampu lalu lintas, tombol, LDR, dan voltmeter digital untuk Arduino, ESP32, dan Pico, lengkap dengan skema rangkaian dan kode langkah demi langkah.
Pertanyaan umum
Apa rumus hukum Ohm?
Hukum Ohm ditulis V = I × R: tegangan (volt) sama dengan arus (ampere) dikali hambatan (ohm). Rumus yang sama juga dipakai dalam bentuk I = V / R dan R = V / I. Misalnya, resistor 1 kΩ yang dihubungkan ke 5 V dialiri arus 5 mA.
Resistor berapa yang dibutuhkan LED?
Resistornya dihitung dengan R = (tegangan catu − tegangan maju LED) / arus. Nilai umum untuk LED merah adalah 220–330 Ω di 5 V Arduino Uno dan 100–150 Ω di 3,3 V ESP32. LED biru dan putih punya tegangan maju lebih tinggi, jadi butuh resistor lebih kecil untuk arus yang sama.
Berapa arus yang bisa diberikan pin Arduino?
Di Arduino Uno dan Nano berbasis ATmega328P, batas mutlaknya 40 mA per pin, dan untuk pemakaian terus-menerus disarankan 20 mA. Total semua pin sebaiknya tidak melebihi 200 mA. Beban yang lebih besar seperti relay, motor, dan LED strip butuh transistor, MOSFET, atau modul relay.
Apa rumus daya dan bagaimana cara menghitung watt?
Daya dihitung dengan P = V × I dan diukur dalam watt. Jika digabung dengan hukum Ohm, rumusnya menjadi P = I² × R dan P = V² / R. Misalnya, resistor 100 Ω yang dihubungkan ke 5 V dialiri 50 mA dan membuang 0,25 W, tepat di batas resistor 1/4 W.
Apakah hukum Ohm berlaku untuk semua komponen?
Hukum Ohm berlaku persis untuk komponen linear (ohmik) seperti resistor. Pada semikonduktor seperti LED, dioda, dan transistor, arus tidak sebanding dengan tegangan, tetapi arus di resistor yang diseri dengannya tetap dihitung dengan hukum Ohm. Untuk NTC yang berubah karena panas atau LDR yang berubah karena cahaya, hukum ini berlaku di setiap momen dengan nilai hambatan pada momen itu.
Bagaimana cara menghitung resistor seri dan paralel?
Resistor seri dijumlahkan dengan R = R1 + R2, dan arus yang sama mengalir di semuanya. Untuk paralel dipakai 1/R = 1/R1 + 1/R2; dua resistor yang sama nilainya jika diparalel membuat hambatan total tinggal setengah. Misalnya, dua resistor 1 kΩ menghasilkan 2 kΩ jika diseri dan 500 Ω jika diparalel.
Proyek untuk dibuat setelah membaca ini
Lihat semua proyek
LED Berkedip
"Halo" pertama di dunia elektronika: menyalakan dan mematikan satu LED. Arduino menyalakan dan mematikan LED dengan jeda singkat, sehingga cahayanya berkedip cepat. Kamu melihat dengan cara paling sed

Lampu Lalu Lintas
Tiruan mini lampu lalu lintas yang kamu lihat di jalan setiap hari. Merah menyala dua detik, kuning menyala sebentar, hijau menyala dua detik, lalu kembali ke merah lewat kuning lagi, terus berulang.

Kendali LED dengan Tombol Tekan (Tekan)
Persis seperti bel pintu: lampu tetap menyala selama kamu menekan, dan mati ketika kamu melepasnya. Arduino terus mendengarkan tombol; selama ditekan LED menyala, dan begitu jarimu terangkat LED mati.

Mengukur Intensitas Cahaya dengan LDR
Ingin melihat seberapa terang kamarmu dalam bentuk angka? LDR, komponen kecil yang bereaksi terhadap cahaya, mengukur cahaya di sekitarnya, dan Arduino menulis nilainya ke layar komputermu setiap sete

LED Berkedip dengan ESP32
Mengajarkan penggunaan output GPIO dasar dengan ESP32. Kita membuat efek berkedip dengan menyalakan dan mematikan LED dari pin digital. Versi ESP32 dari proyek blink klasik di Arduino UNO; perintah blink dasar di lingkungan Arduino sama, tetapi susunan pin ESP32 dan level GPIO 3,3 V-nya berbeda dengan Arduino UNO.

Raspberry Pi Pico: Mengendalikan LED Eksternal (Breadboard)
Langkah berikutnya setelah LED bawaan Pico: menyambungkan LED eksternal ke breadboard dan mengendalikannya lewat pin GP14. Di proyek ini, kamu belajar memakai pin GPIO serbaguna Pico mana pun sebagai output, polaritas LED (kaki panjang = anoda/+, kaki pendek = katoda/–), dan kenapa resistor pembatas arus (220Ω) diperlukan. Tanpa resistor, arus berlebih mengalir melalui LED dan LED bisa terbakar. Rangkaiannya sangat sederhana: Pico GP14 → resistor 220Ω → LED → GND.

Voltmeter Digital dengan Layar LCD
Cari tahu berapa tegangan yang diberikan baterai atau adaptor daya dengan alat ukur buatanmu sendiri. Pembagi dari dua resistor menurunkan tegangan tinggi ke tingkat yang bisa dibaca board, dan Arduin

Menggunakan LED RGB
Tiga warna tersembunyi di dalam satu LED: LED RGB menyala merah, lalu hijau, lalu biru, setiap warna menyala setengah detik dan mati setengah detik, sebelum siklusnya dimulai lagi. Yang kamu butuhkan
Artikel lainnya
Aplikasi BlueGrays
Rakit rangkaian ini langkah demi langkah di ponselmu
Skema pengkabelan, kode, dan daftar komponen dalam satu layar. 200+ proyek Arduino, ESP32, dan Pico siap dibuat.
Pindai dengan ponselmu
Arahkan kamera ke kode ini dan toko aplikasi di ponselmu akan terbuka.
atau buka toko aplikasi

